Friday, August 22, 2014

Manusia Tropis

                                                   Oleh: Harris Harlianto

Bicara tentang masa depan adalah suatu kemewahan bagi manusia tropis. Manusia tropis adalah manusia sederhana. Di negeri tropis matahari bersinar sepanjang hari, sepanjang tahun. Manusia tropis tidak perlu baju tebal, rumah dengan bangunan yang kokoh, juga tidak perlu menimbun makanan untuk menghadapi iklim yang ekstrim. Manusia tropis tidak perlu berpikir panjang,semua kebutuhan hidupnya tersedia dari alam sekitarnya. Manusia tropis tidak perlu menumpuk-numpuk harta kekayaan, karena manusia tropis adalah manusia sederhana.

Manusia Indonesia adalah manusia tropis..sesungguhnya kebutuhannya adalah sangat sederhana: cukup sandang, pangan, papan dan sebelum mati bisa naik haji. Manusia tropis tidak perlu bersusah payah mempunyai konsep tentang masa depan. Bagi manusia tropis hidup adalah hari ini di sini. Besok adalah hari lain yang akan berulang seperti hari kemarin, seperti kepastian esok matahari akan terbit dan bersinar kembali.

Sesungguhnya mengurus negeri ini adalah sesuatu yang mudah, karena manusianya adalah manusia tropis..manusia yang sederhana. Tidak perlu konsep yang muluk-mukluk..syaratnya hanya satu: pemimpin negeri ini haruslah mencintai rakyatnya dengan sepenuh hati.

Karena manusia tropis adalah manusia sederhana,

Salam cinta untuk rakyat Indonesia..!

Thursday, August 21, 2014

Bung Hatta



Oleh: Harris Harlianto

Namaku Hindania. Aku dilahirkan di matahari, hidup waktu fajar lagi menyingsing, disambut oleh angin sepoi yang bertiup dari angkasa serta dinyanyikan oleh suara margasatwa yang amat merdu bunyinya.

Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, dia bertemu seorang musafir dari barat, Wolandia yang kemudian mengawininya. Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku.

Dalam kepedihan, Hindania bersyukur terjadi perubahan besar di barat. Yakni ketika maharaja Mars yang bengis naik takhta di negri Maghrib, yang kebengisannya menyadarkan Wolandia untuk lebih bermuka manis.

Tahukah anda tulisan siapa kutipan di atas...?

Hindania adalah personifikasi Indonesia..

Itu adalah tulisan Bung Hatta ketika berusia 18 tahun, belum lagi dia masuk universitas, dimuat dalam majalah jong sumatra. Hatta mengikuti jalan perjuangan tanpa kekerasan ala Gandhi.

Ketajaman pena Hatta dan kekuatan analisanya justru lebih digdaya daripada tembakan salvo manapun.

Hatta memenuhi sumpahnya hanya kawin setelah Indonesia merdeka...!
Hatta menghadiahi calon istrinya emas kawin yang tidak akan dipikirkan orang lain:
buku alam pikiran Yunani yang ditulisnya sendiri..
Yang membuat ibunda Hatta menangis..
"Nak,apakah kita terlalu miskin untuk membelikan mas kawin ?"

BENDI itu berhenti di depan stasiun pasar bawah,Bukittinggi.
Seorang lelaki menghampiri,berniat menumpang.
Sais bendi menyebutkan ongkos. Lelaki tersebut menawar.Tapi harga tak kunjung cocok.
Tak sabar meladeni,sais itu menghardik dengan suara keras,

"Kalau tidak punya uang, jangan naik bendi.Jalan kaki saja."

Calon penumpang itu, Wakil Presiden Republik Indonesia: Mohammad Hatta,hanya tersenyum
sembari berlalu.

"Hari siang bukan karena ayam berkokok,akan tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang"

"Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan."

Amarah rakyat seiring dengan hasrat yang membisu...

"tak terdengar tumbuhlah padi"

Demikianlah Hatta tak ingin melangkah surut..walaupun dituduh sebagai penghasut.

Bahwa malam tak akan lama.

"Di timur matahari, mulai bercahaya.."

"Tuan...,tidak ada yang tetap di dunia ini"

"Tanah air bukanlah sepotong geografi dan sederet masa lalu,
tapi sesuatu yang berkembang dengan kerja."

"Hanya satu tanah air yang dapat disebut tanah airku.
Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku."

Dirgahayu Republik Indonesia !!

Generasi C dan Jejak Republik

Oleh: Harris Harlianto





Siapakah generasi C ?

Generasi C adalah mereka yang dilahirkan di era 90an, memiliki ciri-ciri sebagai berikut: connected, communicating, content centric, computerized, community oriented, always clicking.


Hampir dipastikan mereka adalah pengguna smartphone dan aktif menggunakan sosial media seperti face book, path, twitter, whatsapp, blackberry messenger, blog dan sejenisnya dalam kesehariannya.

Anak-anak muda ini hampir setiap saat terkoneksi, berkomunikasi dan sangat mudah mendapatkan informasi. Bahkan informasi yang tersedia sangat berlimpah. Mereka bisa menyelesaikan persoalan hanya dengan memencet satu tombol…click !

Karena informasi yang berlimpah, mereka harus pintar-pintar mencerna informasi tersebut. Semestinya dengan segala kemudahan teknologi informasi saat ini, jejak republik dapat dengan mudah ditelusuri oleh anak-anak muda Generasi C.

Coba tanyakan kepada anak muda Indonesia usia 20-an sekarang ini, adakah yang mengenal Tan Malaka ? Pernahkah mereka membaca karya monumentalnya Madilog ?

Atau tahukah merekah kisah perjuangan ibu Inggit mendampingi Soekarno berjuang dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia ?

Sebetulnya semua jawabannya dapat dengan mudah didapat menggunakan Google. Tapi adakah rasa keingintahuan itu muncul  ? Apa menariknya kisah Tan Malaka, ibu Inggit ataupun Soekarno ?

Nah, semoga blog ini bisa menyajikan kisah-kisah menarik sehingga kita bisa menelusuri jejak republik dengan suka cita.