Thursday, August 21, 2014

Bung Hatta



Oleh: Harris Harlianto

Namaku Hindania. Aku dilahirkan di matahari, hidup waktu fajar lagi menyingsing, disambut oleh angin sepoi yang bertiup dari angkasa serta dinyanyikan oleh suara margasatwa yang amat merdu bunyinya.

Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, dia bertemu seorang musafir dari barat, Wolandia yang kemudian mengawininya. Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku.

Dalam kepedihan, Hindania bersyukur terjadi perubahan besar di barat. Yakni ketika maharaja Mars yang bengis naik takhta di negri Maghrib, yang kebengisannya menyadarkan Wolandia untuk lebih bermuka manis.

Tahukah anda tulisan siapa kutipan di atas...?

Hindania adalah personifikasi Indonesia..

Itu adalah tulisan Bung Hatta ketika berusia 18 tahun, belum lagi dia masuk universitas, dimuat dalam majalah jong sumatra. Hatta mengikuti jalan perjuangan tanpa kekerasan ala Gandhi.

Ketajaman pena Hatta dan kekuatan analisanya justru lebih digdaya daripada tembakan salvo manapun.

Hatta memenuhi sumpahnya hanya kawin setelah Indonesia merdeka...!
Hatta menghadiahi calon istrinya emas kawin yang tidak akan dipikirkan orang lain:
buku alam pikiran Yunani yang ditulisnya sendiri..
Yang membuat ibunda Hatta menangis..
"Nak,apakah kita terlalu miskin untuk membelikan mas kawin ?"

BENDI itu berhenti di depan stasiun pasar bawah,Bukittinggi.
Seorang lelaki menghampiri,berniat menumpang.
Sais bendi menyebutkan ongkos. Lelaki tersebut menawar.Tapi harga tak kunjung cocok.
Tak sabar meladeni,sais itu menghardik dengan suara keras,

"Kalau tidak punya uang, jangan naik bendi.Jalan kaki saja."

Calon penumpang itu, Wakil Presiden Republik Indonesia: Mohammad Hatta,hanya tersenyum
sembari berlalu.

"Hari siang bukan karena ayam berkokok,akan tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang"

"Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan."

Amarah rakyat seiring dengan hasrat yang membisu...

"tak terdengar tumbuhlah padi"

Demikianlah Hatta tak ingin melangkah surut..walaupun dituduh sebagai penghasut.

Bahwa malam tak akan lama.

"Di timur matahari, mulai bercahaya.."

"Tuan...,tidak ada yang tetap di dunia ini"

"Tanah air bukanlah sepotong geografi dan sederet masa lalu,
tapi sesuatu yang berkembang dengan kerja."

"Hanya satu tanah air yang dapat disebut tanah airku.
Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku."

Dirgahayu Republik Indonesia !!

No comments:

Post a Comment